Halaman

Jumat, 27 April 2012

Beri Bayi Makan Ikan Sebelum Usia 9 Bulan Untuk Mencegah Bengek


Bengek atau mengi adalah gangguan di saluran pernapasan yang membuat penderitanya susah bernapas dan terdengar suara ngik ngik saat bernapas. Bengek ini mulai muncul sejak anak-anak. Cara mengatasinya sederhana, beri makan ikan dan hindari antibiotik.

Anak-anak yang mulai makan ikan sebelum berusia 9 bulan cenderung tidak mudah menderita mengi ketika berusia pra-sekolah namun. Anak berisiko lebih tinggi terkena bengek jika diberi antibiotik pada usia satu minggu atau sang ibu meminum parasetamol selama kehamilan.

Peneliti menganalisis jawaban dari 4.171 keluarga yang dipilih secara acak terhadap pertanyaan mengenai anaknya ketika berusia enam bulan, 12 bulan dan empat setengah tahun.

"Mengi yang berulang-ulang adalah masalah kesehatan yang sangat umum pada anak-anak prasekolah. Jelas sekali pentingnya perawatan medis yang lebih baik serta pemahaman mengenai mekanisme yang mendasari. Tujuan dari penelitian kami adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko dan faktor pelindung penyakit ini," kata pemimpin penelitian, Dr Emma Goksor dari Rumah Sakit Anak Queen Silvia, Universitas Gothenburg, Swedia.

Peneliti mengamati anak-anak yang memiliki tiga kali episode mengi atau lebih, termasuk yang menggunakan obat asma ataupun tidak, kemudian membandingkannya dengan anak-anak yang tidak mengi.

Sampel selanjutnya dipecah menjadi anak-anak yang hanya mengalami mengi ketika dipicu pilek, dimana anak-anak juga mengalami mengi ketika pilek atau bereaksi terhadap alergi, asap tembakau, atau pergerakan fisik.

Para peneliti menemukan bahwa:

1. Satu dari lima anak memiliki setidaknya satu episode mengi dan 1 dari 20 anak telah mengalami mengi secara berulang (tiga episode atau lebih) selama setahun terakhir. Dari jumlah tersebut, 3/4 nya memakai obat asma, dan lebih dari setenganya didiagnosis asma.

2. Lebih dari separuh anak-anak yang mengalami mengi disebabkan virus mengi sebanyak 57%, dan 43% sisanya mengalami mengi karena dipicu berbagai hal lain.

3. Makan ikan sebelum usia sembilan bulan hampir menurunkan kemungkinan menderita mengi berulang sebesar 50 % sampai usia 4,5 tahun. Ikan yang paling umum dikonsumsi adalah ikan putih, salmon dan ikan datar.

4. Pemberian antibiotik spektrum luas pada minggu pertama berkaitan dengan peningkatan risiko mengi sebanyak dua kali lipat selama 4,5 tahun. Hanya 3,6% dari kelompok anak tanpa mengi yang menerima antibiotik, dibandingkan dengan 10,7% pada anak yang telah mengalami tiga episode mengi atau lebih.

5. Hampir sepertiga dari ibu yang diteliti (28,4%) pernah meminum beberapa obat selama kehamilan, 7,7% di antaranya meminum obat lain beserta parasetamol dan 5,3% hanya meminum parasetamol saja.

6. Kemungkinan paparan parasetamol terhadap kehamilan dalam kelompok mengi yang menggunakan obat asma adalah 12,4% dan meminum parasetamol selama kehamilan meningkatkan risiko mengi sebesar 60%.

7. Pada kelompok yang menginya dipicu banyak hal, risikonya meningkat lebih dari dua kali lipat dan dampaknya terlihat sangat jelas

Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa ikan diduga mengandung sifat pengurang risiko alergi dan bermanfaat mengatasi eksem pada bayi dan alergi rhinitis pada usia pra-sekolah. Penelitian lain telah menunjukkan efek perlindungan terhadap asma.

"Temuan kami jelas menunjukkan bahwa ikan memiliki efek perlindungan terhadap mengi pra-sekolah, bayi yang diberi antibiotik pada usia satu minggu dan yang ibunya mengkonsumsi parasetamol selama kehamilan memiliki risiko mengi, terutama mengi yang dipicu berbagai hal," pungkas Dr Goksor seperti dilansir Eurekalert.org, Rabu (23/11/2011).

Source: detikhealth

Rabu, 18 April 2012

Cara Mudah Deteksi Diabetes pada Bayi

Tidak seperti orang dewasa, gejala diabetes pada anak sulit diketahui. Pasalnya, mereka tidak dapat secara langsung mengomunikasikannya pada Anda.

Diabetes pada bayi merupakan salah satu kondisi kesehatan yang paling berbahaya karena sulit dideteksi. Namun, jika tidak diketahui dalam waktu yang tepat, bahaya seperti kerusakan parah pada bayi dapat terjadi dalam hitungan beberapa tahun.

Kerusakan mencakup penglihatan yang buruk, masalah ginjal, dan lain-lain. Gejala utama dari diabetes seperti kelelahan, sering haus, sering buang air kecil, sulit dipahami bagi orangtua karena bayi tidak bisa mengungkapkan dengan banyak kata.

Jika ingin memastikan bahwa si kecil tidak memiliki diabetes, Anda perlu waspada terhadap tanda-tanda tingginya gula darahnya.

Berikut tanda-tanda diabetes pada bayi, sebagaimana dilansir Boldsky, Rabu (18/4/2012).

Kehausan

Sama seperti orang dewasa, tanda-tanda diabetes pada bayi pun dilihat dari dehidrasi atau tidaknya dia. Sulitnya, bayi tidak dapat memberitahu sedang merasa haus sehingga Anda harus selalu waspada. Perhatikan berapa banyak jumlah botol air atau cairan yang bayi Anda habiskan dalam sehari.

Tanyakan dokter anak, berapa banyak asupan air yang normal bagi kelompok umur tertentu sesuai usia bayi Anda.
Jika selisihnya sedikit, tidak mengkhawatirkan. Tetapi jika perbedaannya sangat besar, Anda perlu penyelidikan lebih lanjut.

Sering buang air kecil

Sulit untuk diketahui berapa banyak bayi buang air kecil. Pertama, mereka belum terlatih ke toilet dan buang air kecil setiap saat. Namun, Anda dapat mendeteksinya dari berapa banyak popok yang diganti dalam satu hari.

Berat badan turun

Kebanyakan bayi turun berat badannya saat belajar berjalan. Jika anak tidak terlalu aktif tapi kehilangan berat badan meski jadwal makan teratur, maka bisa berpotensi diabetes.

Kelelahan

Biasanya saat tidur siang, bayi hanya tidur sebentar. Tetapi jika dia tidur lebih lama dari biasanya, Anda perlu untuk memeriksanya.

Jika bayi Anda menolak untuk bermain, tidur selama berjam-jam lebih dari normal dan menunjukkan kurangnya kekebalan, Anda perlu mengunjungi dokter anak segera.

Luka yang tidak sembuh

Jika Anda melihat bahwa sang buah hati mengalami luka atau luka kecil yang lama masa penyembuhannya, bisa jadi berpotensi diabetes.
(tty)

Rabu, 11 April 2012

Peluang usaha

Dicari Agen dan Reseller Berasku Organik untuk wilayah seluruh indonesia

Hubungi : Dikdik Ahmad Sidik
               Tlp: 022-76-345-345

Senin, 09 April 2012

Beras Sehat untuk Kesehatan

Berasku organik mengandung kadar gula yang sangat rendah ( indeks glikemik <55 ) sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dan sangat baik untuk mereka yang sedang menjalani program diet. Bahkan dianjurkan untuk dikonsumsi bagi mereka yg menderita kolesterol tinggi dan penderita autis. Tak hanya itu, berasku organik juga sangat baik dikonsumsi oleh para Atlet karna padatnya nutrisi dan mineral dari beras premium ini.

Order cepat : 085711001122

Sabtu, 24 Maret 2012

padi

Mari lanjutkan yang kemarin ngebahas masalah padi

Keanekaragaman tipe beras/nasi

Padi pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya.

Ketan
Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat.

Padi wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan 'rajalele'. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.

Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar 'IR5' dan 'IR8', yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki 'darah' kedua kultivar perintis tadi.


Aspek budidaya
Teknik budidaya padi telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sejumlah sistem budidaya diterapkan untuk padi.

* Budidaya padi sawah (Ing. paddy atau paddy field), diduga dimulai dari daerah lembah Sungai Yangtse di Tiongkok.
* Budidaya padi lahan kering, dikenal manusia lebih dahulu daripada budidaya padi sawah.
* Budidaya padi lahan rawa, dilakukan di beberapa tempat di Pulau Kalimantan.
* Budidaya gogo rancah atau disingkat gora, yang merupakan modifikasi dari budidaya lahan kering. Sistem ini sukses diterapkan di Pulau Lombok, yang hanya memiliki musim hujan singkat.

Setiap sistem budidaya memerlukan kultivar yang adaptif untuk masing-masing sistem. Kelompok kultivar padi yang cocok untuk lahan kering dikenal dengan nama padi gogo.

Secara ringkas, bercocok tanam padi mencakup persemaian, pemindahan atau penanaman, pemeliharaan (termasuk pengairan, penyiangan, perlindungan tanaman, serta pemupukan), dan panen. Aspek lain yang penting namun bukan termasuk dalam rangkaian bercocok tanam padi adalah pemilihan kultivar, pemrosesan biji dan penyimpanan biji.



Hama dan penyakit

Hama-hama penting
* Penggerek batang padi putih ("sundep", Scirpophaga innotata)
* Penggerek batang padi kuning (S. incertulas)
* Wereng batang punggung putih (Sogatella furcifera)
* Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
* Wereng hijau (Nephotettix impicticeps)
* Lembing hijau (Nezara viridula)
* Walang sangit (Leptocorisa oratorius)
* Ganjur (Pachydiplosis oryzae)
* Lalat bibit (Arterigona exigua)
* Ulat tentara/Ulat grayak (Spodoptera litura dan S. exigua)
* Tikus sawah (Rattus argentiventer)

Penyakit-penyakit penting
* blas (Pyricularia oryzae, P. grisea)
* hawar daun bakteri ("kresek", Xanthomonas oryzae pv. oryzae)


Pengolahan gabah menjadi nasi
Setelah padi dipanen, bulir padi atau gabah dipisahkan dari jerami padi. Pemisahan dilakukan dengan memukulkan seikat padi sehingga gabah terlepas atau dengan bantuan mesin pemisah gabah.

Gabah yang terlepas lalu dikumpulkan dan dijemur. Pada zaman dulu, gabah tidak dipisahkan lebih dulu dari jerami, dan dijemur bersama dengan merangnya. Penjemuran biasanya memakan waktu tiga sampai tujuh hari, tergantung kecerahan penyinaran matahari. Penggunaan mesin pengering jarang dilakukan. Istilah "Gabah Kering Giling" (GKG) mengacu pada gabah yang telah dikeringkan dan siap untuk digiling. (Lihat pranala luar). Gabah merupakan bentuk penjualan produk padi untuk keperluan ekspor atau perdagangan partai besar.

Gabah yang telah kering disimpan atau langsung ditumbuk/digiling, sehingga beras terpisah dari sekam (kulit gabah). Beras merupakan bentuk olahan yang dijual pada tingkat konsumen. Hasil sampingan yang diperoleh dari pemisahan ini adalah:

* sekam (atau merang), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar
* bekatul, yakni serbuk kulit ari beras; digunakan sebagai bahan makanan ternak, dan
* dedak, campuran bekatul kasar dengan serpihan sekam yang kecil-kecil; untuk makanan ternak.

Beras dapat dikukus atau ditim agar menjadi nasi yang siap dimakan. Beras atau ketan yang ditim dengan air berlebih akan menjadi bubur. Pengukusan beras dapat juga dilakukan dengan pembungkus, misalnya dengan anyaman daun kelapa muda menjadi ketupat, dengan daun pisang menjadi lontong, atau dengan bumbung bambu yang disebut lemang (biasanya dengan santan). Beras juga dapat diolah menjadi minuman penyegar (beras kencur) atau obat balur untuk mengurangi rasa pegal (param).


Produksi padi dan perdagangan dunia

Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Cina (31% dari total produksi dunia), India (20%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brasil (3%).Produksi padi Indonesia pada 2006 adalah 54 juta ton , kemudian tahun 2007 adalah 57 juta ton (angka ramalan III), meleset dari target semula yang 60 juta ton akibat terjadinya kekeringan yang disebabkan gejala ENSO.


Produsen padi terbesar — 2005 (juta metrik ton)
* Republik Rakyat Cina = 185
* India = 129
* Indonesia = 54
* Bangladesh = 40
* Vietnam  = 36
* Thailand  = 27
* Myanmar = 25
* Pakistan = 18
* Filipina = 15
* Brasil = 13
* Jepang = 11
Total Dunia = 700

Sumber: Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)


Aspek budaya dan bahasa

Padi merupakan bagian penting dalam budaya masyarakat Asia Tenggara dan Asia Timur. Masyarakat setempat mengenal filosofi ilmu padi. Sejumlah peribahasa juga melibatkan padi, misalnya

* Padi ditanam tumbuh lalang
* Padi masak, jagung mengupih
* Bagai ayam mati di lumbung padi



Referensi

1. ^ Shadily, Hassan. Ensiklopedi Indonesia. Ichtiar Baru-Van Hoeve dan Elsevier Publishing Projects. Jakarta, 1984. Hal. 2503
2. ^ situs Gramene.org
3. ^ Focus 25, 2007
4. ^ Glaszmann, J.C. 1987. Isozymes and classification of asian rice varieties. Theor. Appl. Genet. 74:21—30.
5. ^ a b Garris, A.J. (2004). "Genetic structure and diversity in Oryza sativa L.". Genetics 169: 1631-1638. doi:10.1534/genetics.104.035642.
6. ^ Zohary D., Hopf, M. 2000. Domestication of plants in the old world. Oxford University Press, Oxford.


selesai ya..

Kamis, 22 Maret 2012

Padi

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM.

Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras



PERTELAAN

Ciri - ciri umum
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae).

Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang dimakan orang.


Reproduksi
Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak.

Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama.

Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endosperm. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endosperm. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan. Bagi manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi.

Satu set genom padi terdiri atas 12 kromosom. Karena padi adalah tanaman diploid, maka setiap sel padi memiliki 12 pasang kromosom (kecuali sel seksual).

Padi merupakan organisme model dalam kajian genetika tumbuhan karena dua alasan: kepentingannya bagi umat manusia dan ukuran kromosom yang relatif kecil, yaitu 1.6~2.3 × 108 pasangan basa (base pairs, bp). Sebagai tanaman model, genom padi telah disekuensing, seperti juga genom manusia. Hasil sekuensing genom padi dapat dilihat di situs NCBI.

Perbaikan genetik padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal, seperti 'Rajalele' dari Klaten atau 'Pandanwangi' dari Cianjur di Indonesia atau 'Basmati Rice' dari India utara. Orang juga berhasil mengembangkan padi lahan kering (padi gogo) yang tidak memerlukan penggenangan atau padi rawa yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman air rawa yang berubah-ubah. Di negara lain dikembangkan pula berbagai tipe padi.

Pemuliaan padi secara sistematis baru dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filipina sebagai bagian dari gerakan modernisasi pertanian dunia yang dijuluki sebagai Revolusi Hijau. Sejak saat itu muncullah berbagai kultivar padi dengan daya hasil tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Dua kultivar padi modern pertama adalah 'IR5' dan 'IR8' (di Indonesia diadaptasi menjadi 'PB5' dan 'PB8'). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama wereng coklat pada tahun 1970-an.

Ribuan persilangan kemudian dirancang untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi. Pada tahun 1984 pemerintah Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini tidak dapat dilanjutkan dan baru kembali pulih sejak tahun 2007.

Hadirnya bioteknologi dan rekayasa genetika pada tahun 1980-an memungkinkan perbaikan kualitas nasi. Sejumlah tim peneliti di Swiss mengembangkan padi transgenik yang mampu memproduksi toksin bagi hama pemakan bulir padi dengan harapan menurunkan penggunaan pestisida. IRRI, bekerja sama dengan beberapa lembaga lain, merakit "Padi emas" (Golden Rice) yang dapat menghasilkan provitamin A pada berasnya, yang diarahkan bagi pengentasan defisiensi vitamin A di berbagai negara berkembang. Suatu tim peneliti dari Jepang juga mengembangkan padi yang menghasilkan toksin bagi bakteri kolera. Diharapkan beras yang dihasilkan padi ini dapat menjadi alternatif imunisasi kolera, terutama di negara-negara berkembang.

Sejak tahun 1970-an telah diusahakan pengembangan padi hibrida, yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. Karena biaya pembuatannya tinggi, kultivar jenis ini dijual dengan harga lebih mahal daripada kultivar padi yang dirakit dengan metode lain.

Selain perbaikan potensi hasil, sasaran pemuliaan padi mencakup pula tanaman yang lebih tahan terhadap berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tekanan (stres) abiotik (seperti kekeringan, salinitas, dan tanah masam). Pemuliaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas nasi juga dilakukan, misalnya dengan perancangan kultivar mengandung karoten (provitamin A).



KEANEKAANRAGAMAN

Keanekaragaman genetik
Hingga sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.

Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki "ekor" atau "bulu" (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-"bulu" atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar 'IR8', yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar 'Deegeowoogen' dari Formosa) dengan indica (kultivar 'Peta' dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim.[Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica ("japonica daerah sejuk" dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica ("japonica daerah tropika" dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.

Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon. Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.


Keanekaragaman budidaya

Padi gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.

Padi rawa
Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.

bersambung ya.....

Selasa, 20 Maret 2012

Beras Organik dan Beras Aroma Khas Karawang

Kabupaten Karawang akan mengembangkan beras organik dan beras aroma yang memiliki cita rasa khas Karawang. Rencana tersebut pun sudah dimulai dengan pengembangan yang dilakukan oleh Pusat Pelatihan Petani Pedesaan Swadaya (P4S) Bale Pare di Kecamatan Rawamerta.

Demikian disampaikan Bupati Karawang, Ade Swara di sela-sela acara penanaman pohon bersama Ibu Negara, Ani Yudhoyono di Cipule, Ciampel, Karawang, Jumat (2/12).

"Upaya tersebut saat ini tengah dikembangkan P4S Bale Pare yang merupakan salah satu dari enam P4S yang dibina dan difasilitasi oleh Badan Penyuluhan Kab. Karawang," katanya.

Selain menciptakan ikon beras organik Karawang, kata Ade, Bale Pare dalam perjalanannya juga telah berhasil meraih Anugerah Inovasi Jawa Barat 2011 dari Gubernur Jawa Barat atas pengembangan Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Organik Padat (POP).

"Untuk mendukung pemasarannya Badan Penyuluhan bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saat ini juga tengah menjajaki upaya pembangunan outlet/stand produk Karawang dalam setiap event kebudayaan dan pariwisata dan nanti akan dipamerkan setiap ada event-event di Karawang," ucapnya.

Lebih lanjut Ade mengatakan Badan Penyuluhan Pertanian Karawang, saat ini juga telah memiliki lima unit kendaraan penyuluhan berbasis internet guna melakukan penyuluhan cyber extension.

"Masing-masing kendaraan ini dilengkapi oleh tujuh unit internet serta alat bantu penyuluhan yang dapat memudahkan para petani dalam menerima ilmu dan mempraktekannya di lapangan," tuturnya.(PR)